Skip to main content

Sebuah Definisi Liburan

Adakah yang pernah liburan sering jalan jalan tapi hati merasa senang sesaat ? Sudah itu ? Pusing lagi.. Rungsing lagi. G ikhlas lagi. Yes .. Saya salah satunya. Semenjak menikah entahlah aku tuh jadi lebih sering jalan jalan. G tau entah suami hobi jalan jalan atau karena memang waktu lowong lebih banyak. Jadi karena suami bukan orang kantoran begitupun emak emak ini, Akhirnya kita suka bosen dirumah .. Jenuh dan akhirnya "keluar yuuk.. Bosen pengen jalan jalan" atau aku " bi aku pengen jalan jalan ih bosen di rumah". Tapi anehnya kalau udah beres jalan jalan tuh ya yang ada capek dan sebetulnya g terlalu puas juga. Kayak oh tadi kesini.. Abis makan diluar atau keliling2. Ya udah B aja. Dan besok besoknya semacam jadi candu pengen keluar lagi keluar lagi. Meskipun kita tau .. Pas jalan jalan tuh beresnya adanya capek dan puasnya sementara. Tapi ada sesuatu yang beda kalo kita jalan jalannya bukan ke Mall atau ke tempat rekreasi. Yaitu kajian . Misalnya dateng ke DT, ke kajian Ustad-ustad like Zulkifli M Ali, Oemar Mita. Atau ketemu teman - teman pengajian. Rasanya tuh hati puas meskipun cuman duduk di masjid 2 - 3 jam. Ditambah riweuh ku budak.. Weew. Dan udah beres dari kajian itu terasa ada peningkatan kualitas hati gitu ( sok sokan ) dan merasa ikhlas puas dan g pengen jalan jalan kelayapan kemana. Seolah hati ini bilang "udah dirumah aja optimalin ladang pahala dirumah + jalan jalan itu abisin uang. Kebayang orang lain uang segitu dipake buat kebutuhan hidup dan nabung. Kamu malah dipake buat makan di luar " Dan aku jadi berfikir kayaknya memang sebetulnya sebaik baikny rekreasi jiwa adalah ngaji. Why ? Karena jiwa yang jenuh akan hiruk pikuk dunia itu akan kembali segar dengan mengingat akhirat dan penciptanya. Liburan ke tempat rekreasi itu boleh banget. Tapi kalo mencari ketenangan hati, kejernihan berfikir bukan disitu tempatnya. Justru kalau terlalu sering khawatir hati kita jadi keras dan terasa hambar. Dan terasa banget bener kata Allah "Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang" Cuman satu hal yang harus diingat. Ngaji Islam itu bukan sekedar pelampiasan ketika kita lieur baru ngaji. Jadi senin-jum'at sibuk dunia ga inget Allah nnti sabtu/minggu pas kajian baru inget Allah.
BIG NO!
Mengkaji Islam itu sebuah kebutuhan. Karena kita butuh untuk masuk surganya Allah .. Maka kita butuh mengetahui apa yang Allah ridhoi agar Allah mau memasukan kita ke JannahNya. Semoga Allah berikan kita sebuah ketenangan hati serta berikan kita hidayah agar selalu merasa haus untuk meneguk ilmuNya yang luar biasa ini. Amiin ya Rabbal alamiin

Comments

Popular posts from this blog

Growth Mindset in Motherhood

Berjibaku dalam dunia rumah tangga, relasi suami istri, menjadi orang tua emang gak mudah. Banyak banget tantangan yang harus di hadapi. Rasanya setiap minggu bahkan setiap hari ada saja masalah baru yang datang. Yang kadang kalo terus ditumpuk ternyata lama-lama bisa menimbulkan pola pikir destruktif di otak kita.  Misal kita berkali-kali mencoba resep MPASI tapi berkali kali pula di tolak dan dilepet kembali oleh anak.  Kalau kita punya pikiran destruktif, kita bisa aja berfikir “ aduh ni kayaknya aku ga  bakat masak nihh.. makanannya ditolak terus “. Atau bisa juga kita langsung ngejudge, “ wah ni anak pilih pilih makan nih kayak bapaknya, ya udahlah seadanya aja”.  Dan akhirnya kita pun meyerah dan memberikan makan sesuai ‘selera’ anak bukan kebutuhannya Nah pola pikir mirip sepert ini, yang cenderung menyerah dengan kondisi, menjudge diri/kondisi terlalu dini, dan merasa bahwa keadaan ataupun segala sesuatu itu sudah baku alias ga bisa diubah ini bahaya banget...

Ada Tunas di Rumah Kita

Akhir-akhir ini sedih banget, karena satu persatu ulama, da'i dan guru umat dipanggil oleh Allah. Sedih karena rasanya kehilangan penunjuk kebaikan dan sedih juga karena belum banyak meneguk ilmu mereka. Aku tuh mikir kalo ulama kita pada dipanggil. Trus nanti siapa yang jadi panutan, dan pemimpin umat di akhir zaman ini. Trus siapa juga yang jadi pasukan pemegang kebenaran yang Allah janjikan di hadis itu.  Tapi aku jadi mikir lagi. Ya mungkin kita memang ga bisa jadi ulama untuk berkontribusi di umat ini. Boro boro mak.. berapa juz kita hafal. Fiqih dasar aja masih blah bloh . Tapi kita sebagai orang biasa dan orang tua punya kapasitas besar melanjutkan estafet para ulama itu.  Yes. Lewat anak. Mereka yang masih kecil. Mereka yang belum tersentuh pemikiran liberal yang rusak. Mereka yang fitrahnya masih terjaga. Kita bisa banget mengarahkan itu semua. Supaya kelak, mereka lah yang jadi pasukan pasukan itu. Mereka yang menjadi ahli ibadah, ahli ilmu dan ahli amal. Supaya nant...

Seandainya

Seandainya para ibu tau betapa beratnya hisab seorang ibu diakhirat kelak, tentu untuk menitipkan anaknya barang sekali saja rasanya ia akan berfikir dua kali. Membentak dan menghardik anak membuatnya bergetar takut dihadapan Allah. Serta harinya tak lepas dari mencari ilmu demi mampu mendidik anaknya menjadi anak yang shalih. Bagaimana tidak ? Di akhirat kelas setiap dari ibu akan ditanyai dengan detail bagaimana ia merawat dan mengasuh anaknya. Bagaimana ia mendidiknya serta membinanya hingga dewasa. Apakah ia sudah melakukan kewajibannya sebagai ibu atau justru malah orang lain yang melakukan. Seandainya para istri tau betapa beratnya pertanggung jawaban seorang istri dihadapan kelak . Tentu ia akan berhati hati menjaga harta suami serta bersyukur dengan pemberian suami. Ia berusaha menyiapkan pelayanan terbaik untuk suami, melemah lembutkan tutur kata, membuat rumah selalu nyaman serta taat pada perintah suami Sebab ia tau begitu banyak wanita masuk neraka kar...