Skip to main content

Ada Tunas di Rumah Kita

Akhir-akhir ini sedih banget, karena satu persatu ulama, da'i dan guru umat dipanggil oleh Allah. Sedih karena rasanya kehilangan penunjuk kebaikan dan sedih juga karena belum banyak meneguk ilmu mereka. Aku tuh mikir kalo ulama kita pada dipanggil. Trus nanti siapa yang jadi panutan, dan pemimpin umat di akhir zaman ini. Trus siapa juga yang jadi pasukan pemegang kebenaran yang Allah janjikan di hadis itu. 

Tapi aku jadi mikir lagi. Ya mungkin kita memang ga bisa jadi ulama untuk berkontribusi di umat ini. Boro boro mak.. berapa juz kita hafal. Fiqih dasar aja masih blah bloh. Tapi kita sebagai orang biasa dan orang tua punya kapasitas besar melanjutkan estafet para ulama itu. 

Yes. Lewat anak. Mereka yang masih kecil. Mereka yang belum tersentuh pemikiran liberal yang rusak. Mereka yang fitrahnya masih terjaga. Kita bisa banget mengarahkan itu semua. Supaya kelak, mereka lah yang jadi pasukan pasukan itu. Mereka yang menjadi ahli ibadah, ahli ilmu dan ahli amal. Supaya nanti disaat orang sulit membedakan baik dan buruk, merekalah yang jadi lentera umat memandu umat ke jalan yang benar. 

Rasanya membentuk mereka dari kecil lebih mudah. Karena kita bisa merancang kurikulumnya dari sekarang, di zaman seperti ini akses ilmu pun begitu luas. Kita bisa mencounter mereka dari berbagai pemikiran menyesatkan sejak dini sebelum mereka kenal dunia.  Ilmu parenting pun sudah banyak berseliweran dimana-mana beda dengan zaman orang tua kita. 

Rasa rasanya ya.. Padahal prakteknya ya Allah..

Cuman.. 

Yang jadi tantangan pertama itu justru kita sendiri. 

Seambisius apa kita. 

Apakah cuman terbesit dihati. Atau memang serius bikin planning, direalisasikan dan dievaluasi.

Sekeras apa kita merubah diri kita jadi sosok panutan.  Sebab anak tuh terbentuk dari teladan. Aku inget kata Ustadz Cahyo "Anak mungkin bisa gagal mendengar nasihat, tapi anak tidak pernah gagal dalam meniru

Kadang aku mikir.. Gimana anak aku mau jadi ulama. Wong 'me time'nya aku aja seringnya yang syubhat mendekati maksiat. Duh ya Allah.. Gimana anaknya mau suka qur'an,   klo emaknya aja klo butek dengerin lagu, bukan qur'an.

Inget pepatah " guru kencing berdiri, murid kencing berlari"

Juga sebesar apa ikhtiar kita mengarahkannya. Apakah memang bener-bener serius atau cuman sebatas semangat diawal dan kurang terarah ? 

Yuk ah mak pak.. Sering-sering rapat sama bojo ngobrolin keluarga kita. Juga semangat bareng-bareng berprogress jadi lebih baik. Kita berpacu melawan waktu. PR kita emang banyak. Sudahlah harus memperbaiki diri kita yang baragajul ini, ditambah menyemai benih benih penerang umat di masa depan. 

Kita mungkin gak punya akhlak dan ilmu sebaik para ulama kita. Tapi kita punya aset yang bisa kita jadikan hujjah dihadapan Allah kalo kita serius menjadi memberikan porsi untuk agama itu 

(*jangan lupa kitanya juga tekun ngaji Islam mendakwahkannya  ya.. Bukan ngandelin anak jadi shalih aja). 


Semoga Allah memudahkan kita Aamin. Barakallahufiikum ajma'iin.

Comments

Popular posts from this blog

Growth Mindset in Motherhood

Berjibaku dalam dunia rumah tangga, relasi suami istri, menjadi orang tua emang gak mudah. Banyak banget tantangan yang harus di hadapi. Rasanya setiap minggu bahkan setiap hari ada saja masalah baru yang datang. Yang kadang kalo terus ditumpuk ternyata lama-lama bisa menimbulkan pola pikir destruktif di otak kita.  Misal kita berkali-kali mencoba resep MPASI tapi berkali kali pula di tolak dan dilepet kembali oleh anak.  Kalau kita punya pikiran destruktif, kita bisa aja berfikir “ aduh ni kayaknya aku ga  bakat masak nihh.. makanannya ditolak terus “. Atau bisa juga kita langsung ngejudge, “ wah ni anak pilih pilih makan nih kayak bapaknya, ya udahlah seadanya aja”.  Dan akhirnya kita pun meyerah dan memberikan makan sesuai ‘selera’ anak bukan kebutuhannya Nah pola pikir mirip sepert ini, yang cenderung menyerah dengan kondisi, menjudge diri/kondisi terlalu dini, dan merasa bahwa keadaan ataupun segala sesuatu itu sudah baku alias ga bisa diubah ini bahaya banget...

Seandainya

Seandainya para ibu tau betapa beratnya hisab seorang ibu diakhirat kelak, tentu untuk menitipkan anaknya barang sekali saja rasanya ia akan berfikir dua kali. Membentak dan menghardik anak membuatnya bergetar takut dihadapan Allah. Serta harinya tak lepas dari mencari ilmu demi mampu mendidik anaknya menjadi anak yang shalih. Bagaimana tidak ? Di akhirat kelas setiap dari ibu akan ditanyai dengan detail bagaimana ia merawat dan mengasuh anaknya. Bagaimana ia mendidiknya serta membinanya hingga dewasa. Apakah ia sudah melakukan kewajibannya sebagai ibu atau justru malah orang lain yang melakukan. Seandainya para istri tau betapa beratnya pertanggung jawaban seorang istri dihadapan kelak . Tentu ia akan berhati hati menjaga harta suami serta bersyukur dengan pemberian suami. Ia berusaha menyiapkan pelayanan terbaik untuk suami, melemah lembutkan tutur kata, membuat rumah selalu nyaman serta taat pada perintah suami Sebab ia tau begitu banyak wanita masuk neraka kar...